Fakta Popok Sekali Pakai

Popok kain tentunya bukan barang baru, terutama untuk para ibu yang baru melahirkan ataupun calon ibu. Selama ini popok kain identik dengan selembar kain yang diberi tali atau hanya selembar kain yang dipakaikan ke bayi lalu diberi peniti untuk mengikatnya. Repot, mesti sering-sering ganti popok, harus punya stok popok berlusin-lusin, itulah yang mungkin terpikir oleh sebagian besar ibu. Padahal, sebetulnya sudah banyak model popok yang lebih modern yang dikembangkan belakangan ini.

Mungkin segala jenis kerepotan yang terbayang saat menggunakan popok kain selembar (popok kain tradisional) itulah yang membuat popok sekali pakai jadi makin laris manis. Ya iyalah, bayangkan aja betapa praktisnya menggunakan popok sekali pakai, satu popok bisa dipakai berjam-jam, kotoran bayi juga terlokalisir di popok saja.

 

Tapi, pernahkah bunda mencari tahu apa-apa saja dibalik popok sekali pakai ? Yuk mari kita simak lebih lanjut fakta-fakta seputar popok sekali pakai

1. Fakta kesehatan
– Popok sekali pakai mengandung bahan kimia bernama dioksin. Bahan ini merupakan bahan beracun yang sering digunakan di industri kertas, fungsinya adalah untuk memutihkan kertas. Dioksin terdaftar sebagai bahan kimia karsinogenik paling beracun

– Popok sekali pakai juga mengandung trybutyl-tin (TBT), suatu polutan beracun yang selanjutnya diketahui menyebabkan masalah hormonal pada manusia dan binatang

– Popok sekali pakai menggunakan sodium polyacrylate (SAP) yang merupakan polimer yang mampu menyerap cairan hingga 100 kali beratnya. SAP tampak seperti gel bila sudah menyerap cairan. SAP ini terbukti memacu peningkatan resiko toxic shock syndrome

– Di bulan Mei tahu 2000, Archives of Disease in Childhood menerbitkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa suhu skrotum pada anak laki-laki yang memakai popok sekali pakai meningkat sehingga pemakaian popok sekali pakai pada jangka waktu lama dapat menghambat mekanisme pendinginan testis secara fisiologis. Mekanisme pendinginan testis ini penting bagi fase pembentukan sperma

2. Fakta lingkungan
– Popok sekali pakai mencemari lingkungan karena hampir sebagian besar orang tidak mematuhi instruksi pada kemasannya, yaitu setiap

kotoran yang menempel di popok sekali pakai harus dibersihkan terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat sampah

– Popok sekali pakai memerlukan waktu 250-500 tahun untuk dapat terurai

– Di Amerika serikat, penggunaan popok sekali pakai masuk dalam kategori tiga besar sampah terbanyak di tempat pembuangan akhir sampah

-Pembuatan popok sekali pakai membutuhkan setidaknya 300 pound kayu, 50 pound bahan baku minyak dan 20 pound klorin untuk seorang bayi dan ini terjadi setiap tahun

3. Fakta ruam
– Karena banyak orang tua yang “lengah” dalam mengganti popok, sehingga muncullah ruam pada bayi. Seharusnya popok diganti setiap 3-4 jam sekali, meskipun memakai popok sekali pakai

4. Biaya
– Popok sekali pakai menghabiskan banyak biaya jika dipakai dalam jangka waktu lama. Anggap saja satu popok sekali pakai seharga Rp. 3.000. Dalam sehari bayi memerlukan setidaknya delapan popok sekali pakai. Sehingga dalam sehari, orang tua harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 24.000. Dalam seminggu menghabiskan Rp 168.000, sebulan menghabiskan Rp 672.000, dalam dua tahun menghabiskan Rp 16.128.000.Wow, jumlah yang cukup besar bukan.

 

 

sumber :
http://www.realdiaperassociation.com, http://www.diaperjungle.com
foto : cereplast.com


Tags:
ganti pampers berapa jam sekali, berapa lama pampers bayi harus diganti, berapa lama bayi memakai pampers, berapa lama pampers harus diganti, berapa jam sekali ganti pampers, pemakaian pampers sebaiknya berapa jam, lama pemakaian pampers, ganti pampers tiap berapa jam, berapa lama pemakaian pampers pada bayi, lama pemakaian pampers pada bayi

admin